Minggu, 25 Oktober 2009

Kamu adalah Singa! Bukan Kambing.

Alkisah, di sebuah hutan belantara ada seekor induk singa yang mati setelah melahirkan anaknya. Bayi singa yang lemah itu hidup tanpa perlindungan induknya. Beberapa waktu kemudian serombongan kambing datang melintasi tempat itu. Bayi singa itu menggerak- gerakkan tubuhnya yang lemah. Seekor induk kambing tergerak hatinya. Ia merasa iba melihat 
anak singa yang lemah dan hidup sebatang kara. Dan terbitlah nalurinya untuk merawat dan melindungi bayi singa itu.  

Sang induk kambing lalu menghampiri bayi singa itu dan membelai dengan penuh kehangatan dan kasih sayang. Merasakan hangatnya kasih sayang seperti itu, sibayi singa tidak mau berpisah dengan sang induk kambing. Ia terus mengikuti ke mana saja induk kambing pergi. Jadilah ia bagian dari keluarga besar rombongan kambing itu.  

Hari berganti hari, dan anak singa tumbuh dan besar 
dalam asuhan induk kambing dan hidup dalam komunitas 
kambing. Ia menyusu, makan, minum, bermain bersama anak-
anak kambing lainnya. Tingkah lakunya juga layaknya 
kambing. Bahkan anak singa yang mulai berani dan besar itu 
pun mengeluarkan suara layaknya kambing yaitu mengembik 
bukan mengaum!  

la merasa dirinya adalah kambing, tidak berbeda dengan 
kambing- kambing lainnya. Ia sama sekali tidak pernah merasa 
bahwa dirinya adalah seekor singa.  

Suatu hari, terjadi kegaduhan luar biasa. Seekor serigala 
buas masuk memburu kambing untuk dimangsa. Kambing-
kambing berlarian panik. Semua ketakutan. Induk kambing 
yang juga ketakutan meminta anak singa itu untuk menghadapi 
serigala.  

”Kamu singa, cepat hadapi serigala itu! Cukup keluarkan 
aumanmu yang keras dan serigala itu pasti lari ketakutan!” 
Kata induk kambing pada anak singa yang sudah tampak besar 
dan kekar.  

Tapi anak singa yang sejak kecil hidup di tengah-tengah 
komunitas kambing itu justru ikut ketakutan dan malah 
berlindung di balik tubuh induk kambing. Ia berteriak sekeras-
kerasnya dan yang keluar dari mulutnya adalah suara embikan. 
Sama seperti kambing yang lain bukan auman. Anak singa itu 
tidak bisa berbuat apa-apa ketika salah satu anak kambing 
yang tak lain adalah saudara sesusuannya diterkam dan 
dibawa lari serigala.  
 
Induk kambing sedih karena salah satu anaknya tewas 
dimakan serigala. Ia menatap anak singa dengan perasaan 
nanar dan marah,  

”Seharusnya kamu bisa membela kami! Seharusnya kamu 
bisa menyelamatkan saudaramu! Seharusnya bisa mengusir 
serigala yang jahat itu!”  

Anak singa itu hanya bisa menunduk. Ia tidak paham 
dengan maksud perkataan induk kambing. Ia sendiri merasa 
takut pada serigala sebagaimana kambing-kambing lain. Anak 
singa itu merasa sangat sedih karena ia tidak bisa berbuat apa-
apa.  

Hari berikutnya serigala ganas itu datang lagi. Kembali 
memburu kambing-kambing untuk disantap. Kali ini induk 
kambing tertangkap dan telah dicengkeram oleh serigala. 
Semua kambing tidak ada yang berani menolong. Anak singa 
itu tidak kuasa melihat induk kambing yang telah ia anggap 
sebagai ibunya dicengkeram serigala. Dengan nekat ia lari dan 
menyeruduk serigala itu. Serigala kaget bukan kepalang 
melihat ada seekor singa di hadapannya. Ia melepaskan 
cengkeramannya.  

Serigala itu gemetar ketakutan! Nyalinya habis! Ia pasrah, 
ia merasa hari itu adalah akhir hidupnya!  

Dengan kemarahan yang luar biasa anak singa itu 
berteriak keras, 

”Emmbiiik!”  

Lalu ia mundur ke belakang. Mengambil ancang ancang 
untuk menyeruduk lagi.  
 

Melihat tingkah anak singa itu, serigala yang ganas dan 
licik itu langsung tahu bahwa yang ada di hadapannya adalah 
singa yang bermental kambing. Tak ada bedanya dengan 
kambing.  

Seketika itu juga ketakutannya hilang. Ia menggeram 
marah dan siap memangsa kambing bertubuh singa itu! Atau 
singa bermental kambing itu!  

Saat anak singa itu menerjang dengan menyerudukkan 
kepalanya layaknya kambing, sang serigala telah siap dengan 
kuda-kudanya yang kuat. Dengan sedikit berkelit, serigala itu 
merobek wajah anak singa itu dengan cakarnya. Anak singa itu 
terjerembab dan mengaduh, seperti kambing mengaduh. 
Sementara induk kambing menyaksikan peristiwa itu dengan 
rasa cemas yang luar biasa. Induk kambing itu heran, kenapa 
singa yang kekar itu kalah dengan serigala. Bukankah singa 
adalah raja hutan?  

Tanpa memberi ampun sedikitpun serigala itu menyerang 
anak singa yang masih mengaduh itu. Serigala itu siap 
menghabisi nyawa anak singa itu. Di saat yang kritis itu, induk 
kambing yang tidak tega, dengan sekuat tenaga menerjang 
sang serigala. Sang serigala terpelanting. Anak singa bangun.  

Dan pada saat itu, seekor singa dewasa muncul dengan 
auman yang dahsyat!  

Semua kambing ketakutan dan merapat! Anak singa itu 
juga ikut takut dan ikut merapat. Sementara sang serigala 
langsung lari terbirit-birit. Saat singa dewasa hendak menerkam 
kawanan kambing itu, ia terkejut di tengah-tengah kawanan 
kambing itu ada seekor anak singa.  
 

Beberapa ekor kambing lari, yang lain langsung lari. Anak 
singa itu langsung ikut lari. Singa itu masih tertegun. Ia heran 
kenapa anak singa itu ikut lari mengikuti kambing? Ia mengejar 
anak singa itu dan berkata,  

”Hai kamu jangan lari! Kamu anak singa, bukan kambing! 
Aku tak akan memangsa anak singa!”  

Namun anak singa itu terus lari dan lari. Singa dewasa itu 
terus mengejar. Ia tidak jadi mengejar kawanan kambing, tapi 
malah mengejar anak singa. Akhirnya anak singa itu 
tertangkap. Anak singa itu ketakutan,  

”Jangan bunuh aku, ammpuun!” 

”Kau anak singa, bukan anak kambing. Aku tidak 
membunuh anak singa!”  

Dengan meronta-ronta anak singa itu berkata,  

“Tidak aku anak kambing! Tolong lepaskan aku!”  

Anak singa itu meronta dan berteriak keras. Suaranya 
bukan auman tapi suara embikan, persis seperti suara 
kambing.  

Sang singa dewasa heran bukan main. Bagaimana 
mungkin ada anak singa bersuara kambing dan bermental 
kambing. Dengan geram ia menyeret anak singa itu ke danau. 
Ia harus menunjukkan siapa sebenarnya anak singa itu. Begitu 
sampai di danau yang jernih airnya, ia meminta anak singa itu 
melihat bayangan dirinya sendiri. Lalu membandingkan 
dengan singa dewasa.  
 

Begitu melihat bayangan dirinya, anak singa itu terkejut,  

“Oh, rupa dan bentukku sama dengan kamu. Sama 
dengan singa, si raja hutan!”  

”Ya, karena kamu sebenarnya anak singa. Bukan anak 
kambing!” Tegas singa dewasa.  

”Jadi aku bukan kambing? Aku adalah seekor singa!”  

”Ya kamu adalah seekor singa, raja hutan yang berwibawa 
dan ditakuti oleh seluruh isi hutan! Ayo aku ajari bagaimana 
menjadi seekor raja hutan!” Kata sang singa dewasa.  

Singa dewasa lalu mengangkat kepalanya dengan penuh 
wibawa dan mengaum dengan keras. Anak singa itu lalu 
menirukan, dan mengaum dengan keras. Ya mengaum, 
menggetarkan seantero hutan. Tak jauh dari situ serigala ganas 
itu lari semakin kencang, ia ketakutan mendengar auman anak 
singa itu. Anak singa itu kembali berteriak penuh kemenangan,  

“Aku adalah seekor singa! Raja hutan yang gagah 
perkasa!”  

Singa dewasa tersenyum bahagia mendengarnya.  

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger | Printable Coupons